Category Archives: Uncategorized

SMA NEGERI 1 RANAH BATAHN

Tampak Depan

Tampak Depan

Advertisements

Song

 

LAST BREATH

by Ahmed Bukhatir

From those around I hear a Cry,
A muffled sob, a Hopeless sigh,
I hear their footsteps leaving slow,
And then I know my soul must Fly!
A chilly wind begins to blow,
Within my soul, from Head to Toe,
And then, Last Breath escapes my lips,
It’s Time to leave. And I must Go!
So, it is True (But it’s too Late)
They said: Each soul has its Given Date,
When it must leave its body’s core,
And meet with its Eternal Fate.
Oh mark the words that I do say,

Who knows? Tomorrow could be your Day,
At last, it comes to Heaven or Hell
Decide which now, Do NOT delay!
Come on my brothers let us pray
Decide which now, Do NOT delay!
Oh God! Oh God! I cannot see!
My eyes are Blind! Am I still Me
Or has my soul been led astray,
And forced to pay a Priceless Fee
Alas to Dust we all return,
Some shall rejoice, while others burn,
If only I knew that before
The line grew short, and came my Turn!
And now, as beneath the sod
They lay me (with my record flawed),
They cry, not knowing I cry worse,
For, they go home, I face my God!
Oh mark the words that I do say,
Who knows, Tomorrow could be your Day,
At last, it comes to Heaven or Hell
Decide which now, Do NOT delay !
Come on my brothers let’s pray
Decide which now, do not delay ….

 

Belajar Aktif untuk SMA

Belajar Aktif untuk SMA

Belajar Aktif Buku III C

2_Belajar_Aktif_Buku_III_C

Belajar Aktif Buku III B

2_Belajar_Aktif_Buku_III_B

Belajar Aktif Buku III A

2_Belajar_Aktif_Buku_III_A

Belajar Aktif Buku 2

2_Belajar_Aktif_Buku_2

Belajar Aktif Buku 1

2_Belajar_Aktif_Buku_1

Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

1_ Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Hardiknas Kehilangan Makna

HARDIKNAS KEHILANGAN MAKNA

Oleh: Drs. Ruston, M. Pd.

Pemerhati Pendidikan Pasaman Barat

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap tanggal 2 Mei. Penetapan 2 Mei sebagai Hardiknas didasarkan pada hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Nama aslinya Raden Mas Soewardi Soeryaningrat (1889-1959).
Bila berbicara tentang Hardiknas, kita tidak bisa terlepas dari sosok Ki Hajar Dewantara. Berdasarkan history, perjalanan hidup Ki Hajar Dewantara penuh dengan perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Pada saat dia bekerja sebagai jurnalist, dia tergolong penulis yang handal. Tulisan-tulisannya dapat membangkitkan semangat patriotik antikolonial. Pada tahun 1908 dia aktif dalam organisasi Boedi Oetomo yang bertujuan untuk menggugah kesadaran masyarakat Indonesia mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Pada tahun 1912 dia bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesumo mendirikan Indische Pertij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka.
Di bidang pendidikan Ki Hajar Dewantara mendidirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) yang menekankan pendidikan rasa kebangsaan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Filsafat pendidikan yang sangat terkenal yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara adalah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengan menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan). Setelah Indonesia merdeka Ki Hajar Dewantara menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Ki Hajar Dewantara dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional, Pahlawan Pergerakan Nasional dengan surat keputusan Presiden RI No.305 tahun 1959, tanggal 28 Nopember 1959.
Filsafat pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara tersebut di atas mengisyaratkan kita untuk berperilaku sesuai dengan posisi dan tugas masing-masing. Misalnya guru akan berperilaku sesuai dengan posisinya sebagai pendidik (educator). Dalam proses pembelajaran di sekolah, seorang guru berfungsi sebagai: motivator (memberikan dorongan kepada peserta didik untuk belajar dengan giat dan berperilaku yang baik), initiator (memberi peluang kepada peserta didik untuk berprakarsa/berinisiatif), model (memberi contoh sekaligus menjadi teladan bagi peserta didiknya).
Dari sejarah singkat di atas diketahui bahwa Ki Hajar Dewantara adalah seorang pejuang, politikus, penulis, filsuf dan pendidik.
Dengan demikian makna peringatan Hardiknas adalah “mengenang kembali sejarah perjuangan Ki Hajar Dewantara, menyerap sikap dan perilakunya dalam berjuang, mengaplikasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan tugas dan fungsi kita masing-masing”.
Realitas peringatan Hardiknas sekarang ini telah berubah makna. Peringatan Hardiknas dilakukan dengan menyelenggarakan berbagai macam acara untuk memeriahkan dan merayakannya. Ada yang mengadakan perlombaan, pertandingan, hiburan dan lain sebagainya. Puncak acara peringatan Hardiknas adalah mengadakan upacara pengibaran bendera Sang Merah Putih sekaligus penyerahan hadiah bagi pemenang lomba dan pemberian penghargaan bagi yang berprestasi di bidang pendidikan kemudian bubar dari lapangan upacara. Ceremony semacam itu merupakan acara rutin kita setiap tahun. Kalau acara seperti itu yang diadakan sangat cocok diberi nama “Perayaan” bukan “Peringatan” sebab ‘perayaan’ mengedepankan kemeriahan sedangkan ‘peringatan’ mengutamakan makna.
Mari kita lihat contoh di bidang pendidikan. Untuk menentukan lulus/tidak lulus peserta didik dari satu tingkat pendidikan tertentu, misalnya SMP, peserta didik harus mendapat nilai rata-rata mata pelajaran yang diUNkan (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA) minimal 5,5. Dibolehkan nilai dua dari empat mata pelajaran ≥ 4,0. Dari sini kita tahu bahwa penentu lulus/tidak lulus adalah kecerdasan intelektual saja yang bisa diperoleh lewat pengajaran. Sementara kecerdasan moral terabaikan yang hanya bisa diperoleh lewat pendidikan. Dengan demikian pemerintah mengutamakan pengajaran daripada pendidikan.
Apa yang terjadi dengan ketentuan tersebut? Sekolah dan pihak yang terkait berusaha dengan ektra sungguh-sungguh agar peserta didiknya bisa lulus. Mempersiapkan peserta didik untuk menguasai keempat mata pelajaran itu dengan mengalokasikan dana yang tidak sedikit untuk memberikan pelajaran tambahan (di luar jam tatap muka), melakukan perbaikan dan pengayaan, membahas soal-soal yang berhubungan dengan UN, membekali guru yang mengajar mata pelajaran yang diUNkan, dan lain sebagainya. Lagi-lagi hal ini membuktikan bahwa pengajaran diutamakan daripada pendidikan. Oleh karena itu sangat cocok digunakan istilah “Perayaan Hari Pengajaran Nasional” bukan “Peringatan Hari Pendidikan Nasional”.
Bagaimana cara mengembalikan makna peringatan Hardiknas yang sudah hilang? Pertama, hargai sejarah. Sejarah mencatat bahwa pendidikan berberan penting dalam mencapai kemerdekaan negara Republik Indonesia. Kedua, utamakan makna daripada euphoria. Mengisi semangat nasionalis berbangsa dan bernegara dalam hati setiap warga negara Indonesia melalui pendidikan lebih utama daripada mengadakan perayaan Hardiknas yang memakan dana relatif banyak. Ketiga, lahirkan kembali Ki Hajar Dewantara – Ki Hajar Dewantara baru, yaitu orang-orang yang berjuang dan mengabdi demi bangsa dan negara. Keempat, gunakan anggaran pendidikan untuk kebutuhan pendidikan sesuai dengan pos pengeluaran yang ditentukan.
Anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN/APBD sudah direstui oleh DPR dan telah direalisasikan mulai tahun anggaran 2009. Sekolah gratis diberlakukan untuk tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP). Bangunan fisik dibenahi. Pendidik dan tenaga kependidikan ditambah secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan. Kesejahteraan guru diperhatikan dengan memberikan berbagai macam tunjangan. Dengan demikian diharapkan makna peringatan hari pendidikan nasional kembali ke orbitnya. Let’s wait and see.